by

Berawal Ampas Teh dan Limbah Sayur Akhirnya Mendapat Penghargaan

 

Sebanyak tiga mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sukses melakukan inovasi mengolah sisa pengolahan atau limbah barang yang dipakai sehari-hari menjadi sesuatu berguna.

Pasang Iklan Gratis Hanya Di Sekolahkampus.id

Ketiga mahasiswa tersebut yakni Ruby Agil Hasan (D3 Agribisnis Agrofarmaka 2017), Muh Taufiek Heryansyah (D3 Agribisnis Hortikultura 2018), dan Panji Karuniatama Putra (D3 Agribisnis Hortikultura 2018).

Bahkan penemuan mereka tersebut mendapatkan dua penghargaan berupa medali emas dan penghargaan eksklusif dari Sri Lanka pada ajang “The 2nd World Invention and Technology Expo (WINTEX)” di Jakarta.

Mahasiswa UNS ini mengusung tema riset “Mengoptimalkan Potensi Ampas Teh, Limbah Sayur Pasar dan Kotoran Ternak sebagai Pupuk Organik Cair di Desa Kemuning, Karanganyar”.

Belajar dari kegagalan

Berdasarkan keterangan dari Taufiek, seorang anggota tim, urusan melatarbelakangi inovasi tersebut ialah keberadaan limbah ampas teh yang membludak di Desa Kemuning sebagai penghasil teh terbanyak di Karanganyar.

“Di samping itu, mata penelusuran penduduk sekitar pun peternak hewan, seperti domba dan sapi dengan limbah kotoran ternak. Tidak kalah potensialnya, ada pasar tradisional Kemuning, di mana tidak sedikit sayuran yang terbuang sia-sia atau busuk dan menjadi limbah,” ucap Taufiek, seperti dipublikasikan di laman sah UNS.

Timnya melakukan persiapan awal dengan mengerjakan pendaftaran produk ke WINTEX guna dikurasi dan ditetapkan lolos. Kemudian pada tahap penciptaan produk, tim ini sukses setelah dua kali percobaan.

Pembuatan pupuk sempat tidak berhasil pada eksperimen pertama sebab wadah berupa botol air mineral yang dipakai terlalu sempit. “Karena sempit dan kecil, botol tersebut mengeras dan sarat dengan gas. Semua pupuknya tumpah. Akhirnya kami pakai bahan dan perangkat yang lebih banyak di eksperimen kedua. Botolnya pun lebih besar. Setelah seminggu, produknya sukses dan kami kemas dalam botol putih dengan daya tampung 500 mililiter,” tambah Taufiek. Siap berlomba global Produk yang didapatkan tim tersebut diberi nama “Tealof Wilavette (Tea Waste As Liquid Organic Fertilizer With Livestock Manure and Vegetable Market Waste)”.

Mereka menginginkan produk tersebut dapat dipasarkan pada masa mendatang. Namun, mereka bakal mengkaji lebih dalam lagi tentang harga produk supaya dapat dapat dicapai oleh petani-petani kecil.

Di samping itu, strategi pemasarannya pun bakal ditinjau ulang supaya mampu berlomba dengan produk semacamnya di pasaran. “Kami juga bercita-cita produk itu mendapatkan paten dari UNS.

Selama persaingan kemarin kami mendapat tuntunan dan dukungan penuh dari Bapak Raden Kunto Adi selaku Kepala Prodi D3 Agribisnis, pun admin prodi dan Sekolah Vokasi UNS,” ungkap Taufiek.

Dia juga menuturkan, WINTEX merupakan persaingan pameran produk kelas belajar internasional yang diadakan oleh Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA). Para pesertanya mesti berlomba dengan peserta beda dari sekian banyak negara di dunia, serta sekian banyak perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed