by

Dua Sejarawan Kupas Kisah Perjuangan Pangeran Sambernyawa

Sekolahkampus.id Dua Sejarawan Kupas Kisah Perjuangan Pangeran Sambernyawa – Kisah perjuangan Pangeran Sambernyawa yang juga disebut sebagai Raden Mas Said dan selanjutnya bergelar Mangkunegara I dalam perannya menunjang kaum Tionghoa saat melawan VOC diangkat dalam acara dengan judul Forum Diskusi Heritage Ketiga, Kamis (27/2). Dua ahli sejarah Prof. Wasino dan Prof. Peter Carey hadir sebagai pemantik diskusi yang disertai oleh ratusan guru sejarah di level SMP/MTS dan SMA/SMK/MA se Jawa Tengah, anggota Komunitas Sejarah Indonesia juga sejumlah pemerhati sejarah di Auditorium Ds. Djojodiharjo Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Blotongan.

Dilansir dari laman UKSW, forum diskusi ini adalah lanjutan dari dua diskusi sebelumnya perihal sejarah dari periode Geger Pacinan (1740-1743), Palihan Nagari Mataram (1755) hingga Berdirinya Mangkunegaran (1757) yang digagas oleh program studi Pendidikan Sejarah FKIP UKSW dengan sokongan Biro Perluasan dan Mobilisasi Sumber Daya (BPMSD) UKSW.

Pasang Iklan Gratis Hanya Di Sekolahkampus.id

Mengawali sesi diskusi, sejarawan dari Universitas Negeri Semarang Prof. Wasino menjelaskan perihal gesekan Tionghoa dan VOC di Batavia yang melahirkan hubungan-hubungan baru di kalangan etnis di nusantara. Perlawanan orang-orang Tionghoa ini tampaknya mendapat sokongan dari sebagian penguasa Jawa, salah satunya oleh Pangeran Sambernyawa.

Kisah pertempuran dimana Pangeran Sambernyawa terus melakukan perlawanan di wilayah Surakarta bagian selatan tersebut dilontarkan Prof. Wasino menjadi bukti bahwa jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, sikap yang menjunjung toleransi menjadi alat pemersatu bangsa.

Sementara itu, Peter Carey mengajak peserta diskusi untuk mengenang karya terakhir sejarawan M.C. Ricklefs yang menulis buku berjudul “Sambernyawa: Kisah Perjuangan Seorang Pahlawan Nasional Indonesia Pangeran Mangkunegara I (1726-1795)” sebelum dirinya wafat pada tahun 2019 kemarin.

Karya ini menurut Peter Carey mengangkat tiga nilai Pangeran Sambernyawa yaitu sangat toleran kepada keberagaman etnis dan agama, menjunjung tinggi martabat wanita, juga seseorang yang mempunyai penghargaan tinggi kepada kebudayaan dan menjadikannya sebagai pijakan.

“Karya paripurna Merle Ricklefs tersebut menulis perihal biografi Pangeran Sambernyawa menurut babad otentik Mangkunegara yang menjadi semacam buku hariannya dengan judul asli Soul Catcher, Java`s Fiery Prince Mangkunegara I,” tutur Adjunct Profesor FIB Universitas Indonesia ini.

Forum diskusi yang ikut dihadiri oleh perwakilan Himpunan Kerabat Mangunegaran (HKMN) Surakarta tersebut, dirangkai dengan pelantikan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) dan Majelis Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Provinsi Jawa Tengah. Dalam kesempatan ini, Dra. Esthi Susanti Hudiono, M.Si., koordinator acara sekaligus kepala BPMSD UKSW sekaligus mengumumkan rencana pembukaan lomba Penulisan Sejarah Periode Geger Pacinan, Palihan Nagara Mataram, hingga Berdirinya Mangkunegara bagi guru-guru muda dengan rentang usia 25-30 tahun.

“Kami membuka kesempatan bagi guru muda untuk menulis sejarah yang terjadi dari tahun 1740-1757. Bagi 20 tulisan terpilih akan dibimbing langsung oleh Prof. Peter Carey. Kami menginginkan mengangkat kembali rangkaian kisah yang tidak terbahas secara komprehensif dan nyaris terlupakan dalam pendidikan sejarah di sekolah,” terang Esthi.

Ditambahkan Esthy, sama seperti forum diskusi sebelumnya aktivitas ini adalah proyek ‘Menghidupkan Kisah Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC (1740-1743)’ dicanangkan melalui peringatan 35 Windu Geger Pacinan, 75 Tahun Kemerdekaan Indonesia dan 8 Windu Universitas Kristen Satya Wacana.

Semoga apa yang sudah dilakukan oleh UKSW bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed