by

Gadis Asal Tanjung Pinang Mengejar Mimpi

“Education is the passport to the future, for tomorrow belongs to those who prepare for it today (pendidikan ialah jalan mengarah ke masa depan, sebab hari esok ialah milik mereka yang mempersiapkannya hari ini.)” – Malcolm X.

Barangkali kutipan di atas sesuai untuk Elvi Liana (22), gadis asal Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Hidup dalam keterbatasan ekonomi bukanlah urusan mudah, lagipula ia punya kemauan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Pasang Iklan Gratis Hanya Di Sekolahkampus.id

Ayah Elvi hanyalah helper mekanik lepasan di perusahaan swasta di Tanjung Pinang dengan upah Rp 3 juta per bulannya, sedangkan ibunya mengurus rumah tangga. Gaji sebesar itu, kata Elvi, dianggarkan untuk kebutuhan sehari-hari, serta ongkos sekolah ia dan adiknya.
Keinginan Elvi guna kuliah semakin susah lantaran pandangan family yang memandang anak wanita tidak perlu pendidikan tinggi. “Di family besar, menjadi perempuan itu melulu akan selesai di dapur,” ucap gadis keturunan Tionghoa itu saat didatangi oleh kesebelasan Kompas.com di Pangkalan Kerinci, Riau, Minggu (1/9/2019).

Itulah yang menjadikan pendidikan bukan prioritas di dalam keluarga Elvi. Sebab ujung-ujungnya melulu akan selesai di dapur saja. Toh, situasi ekonomi juga tidak memungkinkan. Kendati demikian, Elvi tidak pasrah bakal hidupnya. Selepas lulus sekolah menengah atas, berbekal tekad dan duit pinjaman dari keluarga, sulung dua bersaudara tersebut mengikuti ujian masuk jalur berdikari Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur jurusan Teknik Lingkungan, untuk tahun  2016 – 2020.

Perjuangannya saat tersebut memang berbuah manis, Elviliana lolos ujian masuk perguruan tinggi tersebut. Akan tetapi malah inilah yang memunculkan kekhawatiran baru untuk keluarganya. Jelas saja, ongkos yang diperlukan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi tidaklah sedikit. Bukan Elviliana namanya bila ia patah semangat.
Segala upaya ia lakukan supaya bisa terus kuliah, tanpa butuh membebankan kedua orang tuanya. Salah satunya dengan menggali informasi beasiswa. “Tujuan mula saya itu tidak harus membebankan orang tua. Saya mesti cari support dari yang lain,” ujar Elvi. Tampaknya keberuntungan kembali berpihak pada gadis tersebut.

Elviliana sukses menjadi di antara dari 221 penerima beasiswa Teladan inisiasi Tanoto Foundation. “Terus saya searching dong, browsing, terdapat rekomendasi dari teman-teman pun dan saya pilih beasiswa dari Tanoto Foundation,“ ungkapnya. Dijelaskan oleh Elvi, ada sejumlah proses yang mesti ia lewati guna mendapatkan beasiswa tersebut, yakni administrasi, lantas psikotes, dan terakhir wawancara dengan pihak Tanoto Foundation.
Di samping beasiswa, ia pun mendapatkan ongkos hidup dan dana pengembangan akademik dari organisasi filantropi yang berdiri semenjak tahun 1981 tersebut. Untuk pertolongan pengembangan akademik, Tanoto Foundation mensponsorinya mengikuti 5th International Biotechnology Competition and Exhibition (IBCEx), di Unversity Teknologi Malaysia (UTM), Johor Bahru, 5-6 April 2019. Di sana, Elvi berpeluang memamerkan temuan ilmiahnya, yakni project DJ-START (Double Jacket Sterilization Technology for Baby Diapers Waste), inovasi teknologi pengolahan limbah popok bayi menjadi kerajinan tangan.

Gadis Asal Tanjung Pinang Mengejar Mimpi
Gadis Asal Tanjung Pinang Mengejar Mimpi

Menciptakan Manusia unggul lewat beasiswa Teladan

Keputusan Elvi guna melanjutkan pendidikani adalah wujud nyata perjuangan anak bangsa dalam melakukan perubahan besar yang berdampak untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan Indonesia. “Saya hendak membuat evolusi gitu, lho.
Dengan pendidikan, ini akan mengolah hidup saya, family saya yang mana ayah ibu saya melulu tamatan SMP dan SMA,” kata Elvi yang sekarang tengah menjalani semester tujuh. Sementara itu, membuat sumber daya manusia (SDM) unggul seperti Elviliana tidak semudah mengembalikan telapak tangan.

Perlu pendidikan yang layak supaya kebutuhan itu dapat terpenuhi. Itulah yang mendasari Tanoto Foundation tetap terus menjalankan program beasiswa Teladan. CEO Global Tanoto Foundation Satrijo Tanudjojo mengatakan, sejak mula dicanangkannya program Teladan yakni tahun 2006, organisasinya itu sudah memberikan pertolongan beasiswa untuk 7.500 mahasiswa.
Tak hanya pertolongan dana pendidikan, lewat program Teladan, Tanoto Foundation pun memberikan pelajaran kepemimpinan atau leadership untuk seluruh penerima beasiswa. Sebab, menurut keterangan dari Satrijo untuk dapat memimpin Indonesia di masa mendatang, dibutuhkan generasi yang mempunyai jiwa kepemimpinan.

Lewat pekerjaan Learn and Lead Tanoto Scholarship Gathering (TSA) 2019 yang diselenggarakan di Pangkalan Kerinci, Riau, Jumat (30/8/2019) sampai Senin (2/9/2019), materi itu diberikan. Sebanyak 221 penerima beasiswa yang berasal dari sembilan perguruan tinggi negeri di Indonesia berkumpul mengikuti pelatihan sembilan karakter yang dibutuhkan dalam memimpin bangsa di masa depan.
Adapun kesembilan karakter itu terdiri dari sadar diri, bersemangat, integritas, belajar berkelanjutan, ulet dan berkarakter kuat, peduli sesama, memberdayakan sesama, inovatif, serta mempunyai semangat kewirausahaan. “Semangat tersebutlah yang diharapkan oleh founder kami (Sukanto Tanoto), supaya ke depan generasi Indonesia mempunyai kualitas, karakter, dan pola pikir kuat,” jelas Satrijo di sela-sela acara yang dilangsungkan selama empat hari, mulai dari Jumat (30/8/2019) sampai Senin (2/9/2019).

Melalui pekerjaan yang rutin diadakan sejak tahun 2010 ini, semua mahasiswa itu diharapkan dapat bersilaturahmi, baik sesama penerima beasiswa maupun dengan tim Tanoto Faoundation tersebut sendiri. Dengan begitu, networking pun bisa terjalin.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir yang ketika itu muncul mengatakan, guna mewujudkan SDM unggul, keterampilan baca, tulis, dan hitung (calistung) saja tidaklah cukup. “Untuk menghadapi kendala global dan menguasai dunia, generasi muda butuh menguasai tiga literasi, yakni literasi data, teknologi, sumber daya manusia,” tandasnya.
Nasir menuliskan beasiswa Teladan dari Tanoto Foundation ialah wujud nyata peran swasta dalam menyokong program Pemerintah Indonesia dalam urusan pendidikan. Di samping itu, program TSA pun berperan langsung memberikan pendidikan nilai-nilai positif yang dilakukan perusahaan keluarga Tanoto. “Saya respon positif tahapan Tanoto Foundation dalam memberikan scholarship untuk anak Indonesia.

Dalam urusan ini, korporasi telah menolong pemerintah menyiapkan generasi yang siap menghadapi daya saing bangsa, yaitu penambahan kualitas SDM, cocok dengan amanat Presiden Joko Widodo,” jelas Nasir. Komitmen Tanoto Foundation guna mencetak generasi muda  berkualitas lewat pendidikan akan terus berjalan. Sebab, dengan SDM seperti tersebut Indonesia mampu berlomba secara global.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed