by

Jeritan Hati Guru Kini Tawar Hati

Ia datang dengan sejuta asa, hendak menjadi agen perubahan untuk pendidikan Indonesia. Mencerdaskan anak bangsa, membina karakter luhur, menjadikan pemikir inovasi dan kreatif. Namun, dalam perjalanannya sebagai guru, ia menjadi tawar hati.

Ia dibebani berat di pundaknya. Menyelesaikan perlengkapan yang barangkali tidak bakal selesai bila ia membuatnya sendiri. Tujuan pembuatannya sungguh paling mulia, agar guru siap melatih sepanjang tahun. Namun, di balik mulianya destinasi itu, terdapat lebih dari 10 (sepuluh) perlengkapan yang mesti ia selesaikan, seperti silabus, program semester, program tahunan, pemetaan kompetensi inti, pemetaan kompetensi dasar, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Kalender Pendidikan, alat-alat evaluasi, program pengayaan, program remedial, Pembuatan Kriteria Ketuntasan, dan sebagainya.

Pasang Iklan Gratis Hanya Di Sekolahkampus.id

Rekan-rekannya memintanya untuk mendownload perangkat tersebut dari internet sebab sudah terdapat di sana. Rekannya pun memintanya guna tidak tak lupa mengganti tahun, nama sekolah, dan nama guru di perlengkapan orang lain yang sudah didownload itu.

Pasang Iklan Gratis Hanya Di Sekolahkampus.id

Ia tidak jarang kali menyebut dirinya guru idealis sampai-sampai ia menampik untuk mengerjakan saran rekannya itu. Ia energik untuk menciptakan sendiri. Sayangnya ia tidak mengerti. Ia pun mengemukakan diri guna ikut pelatihan kurikulum di kotanya. Pelatihan kurikulum tersebut sungguh beragam, tetapi ia mengikuti yang di kota dan di sekolahnya saja. Ia kembali  kecewa, si pemateri sama sekali tidak memuaskan rasa dahaganya akan ilmu menciptakan perangkat.

Ia sendiri meragukan keterampilan si pemateri yang tidak jarang bingung dengan penjelasannya sendiri. Padahal pemateri tersebut sudah diajar di ibu kota dan sungguh mengecewakan. Ia pulang mendapat pelatihan dari fasilitator kurikulum yang didatangkan ke sekolahnya, namun tidak bertolak belakang jauh pematerinya tetap tidak mengajar sesuai dengan harapan. Akhirnya ia menyimpulkan untuk belajar sendiri dan menciptakan sendiri seluruh perlengkapan itu.

Namun, karena keterbatasan waktu, ia asal membuat sejumlah perangkat sebab ia pun ragu bilamana itu dicek dengan baik oleh atasannya. Pikirnya, “Yang urgen saya kumpul.”

Tibalah saatnya ia mengajar di kelas. Ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Ia senang banyak anak-anak yang memahami materinya, dan motivasi belajar. Namun, ada satu anak yang tidak jarang sekali terlambat walaupun telah berulang kali ditegur dan dinasihati. Pikirnya, “Saya mesti mendisiplinkan anak ini.”

Ia tidak memberi hukuman jasmani kepada anak itu, laksana berdiri di atas satu kaki, lari keliling lapangan, atau memukul tangannya. Ia melulu memberi anak itu tambahan tugas mencatat karangan dengan judul “Mengapa Aku Harus Disiplin”. Anak tersebut diminta guna mengumpulkannya setelah kembali sekolah dengan konsekuensi bilamana tidak dikerjakan, ia bakal belajar di luar kelas.

Keesokan harinya, si anak bukan lagi terlambat tetapi tidak menggarap karangannya. Tentu saja, ia meminta anak tersebut untuk belajar di luar kelas belajar dan memintanya menyelesaikannya di luar kelas. waktu istirahat, orangtua si anak menelepon si guru, dengan menghardik si guru dan mengandung nada ancaman, ia meminta si guru guna tidak memaksa anaknya menggarap karangan yang harus 250 kata itu. Ia menjadi heran dan mengupayakan menjelaskan untuk ibu itu, namun si ibu tidak mau memperhatikan dan mematikan telepon. Ia merasa paling tidak diberi hak guna memberi keterangan dan merasa tidak dihargai.

Beberapa waktu kemudian, ia mengambil gitar dari seorang anak sebab dimainkan di kelas belajar dan berjanji bakal mengembalikannya setelah beberapa hari sesuai dengan ketentuan sekolah. Tiba-tiba, orangtua si anak datang kepadanya seperti seorang bos dan memintanya untuk membalikkan gitar anaknya. Ketika sang guru menuliskan bahwa ia harus mengikuti formalitas sekolah, dengan wajah masam si orangtua memaksa guru untuk membalikkan saja gawai anak itu.

Ia menjadi tawar hati dengan orangtua yang tidak mau berkolaborasi itu. Ia lantas menghibur hatinya dan berkata, “Itu hanya dua orang, ada tidak sedikit anak yang masih mau mengikuti aturan sekolah.”

Waktu berlalu, dan kalimat penghibur tersebut semakin pudar. Ia menemui banyak orangtua yang tidak inginkan bekerja sama guna sama-sama mendidik anak-anak. Bahkan tidak sedikit orangtua yang mengintimidasi guru dengan makian dan celaan baik tersebut secara langsung maupun melalui telepon atau pesan singkat. Guru hanya menyimpan semua itu di dalam hati sebab ia sendiri ragu apakah negara ini dapat memberikannya perlindungan hukum bilamana ia mengadukan orangtua semacam itu ke pihak berwajib.

Ia menjadi tawar hati, dan kalimat penghiburnya pulang menjadi kutuk, “Rasakanlah sendiri bagaimana anakmu bakal menjadi monster saat ia menjadi dewasa karena anda selalu membelanya, dan saat itu juga tangisanmu tidak lagi ada gunanya.”

Ia memilih untuk menjadi sedikit longgar supaya ia tidak perlu bertemu orangtua yang bisa saja memakinya. Ia sungguh trauma. Ia memang tawar hati untuk membina karakter anak-anak itu, tetapi ia tetap mengajar dengan sungguh-sungguh. Ia tetap mempersiapkan bahan ajarnya dan menggarap semua administrasinya. Lalu, ia lantas terpikir guna ikut Olimpiade Guru Nasional yang pengumumannya dapat dilihat di laman kesharlindungdikmen.

Ia semangat menuntaskan semua administrasinya dan ia kian bahagia sebab ia ditetapkan lolos administrasi. Namun, alangkah kecewanya ia saat namanya tidak didaftarkan untuk mengikuti tes sebab pemerintah wilayah hanya memperhitungkan dana untuk beberapa orang saja. Karena ia merasa tidak mendapat keadilan, ia juga mengadu untuk yang berwenang sampai-sampai ia pada akhirnya diperbolehkan ikut tes, tetapi transportasi dan akomodasi mesti bayar mandiri.

Ia menyanggupinya asalkan ia boleh ikut tes. Sekali lagi, ia menikmati ketidakadilan sebab panitia membuat banyak soal yang salah sebab jawaban tidak ada, jawaban kadang dapat ganda, ketidakjelasan artikel dan server yang tidak siap. Panitia pun tidak transparan dengan nilai, namun tiap waktu lantas begitu saja menilai pemenang. Ia pasti saja hendak mengetahui nilainya supaya ia dapat memperbaiki kompetensinya sebab tes juga dilaksanakan secara online.

Jawaban panitia yang berbelit-belit dan terkesan lempar tanggung jawab membuatnya undur diri dari polemik itu. Ia tidak kecewa sebab kalah ia lumayan dewasa untuk  itu, ia hanya kecewa untuk proses yang paling tidak transparan dan adil. Ia lantas melakukan pengaduan ke ULT Kemdikbud, namun ia tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan.

Perangkat administrasi yang berat, belum jelasnya perlindungan hukum untuk guru, dan sistem Olimpiade Guru Nasional yang tidak transparan masih beberapa kecil yang bisa disebutkannya. Ada masih banyak lagi yang membuatnya kecewa, seperti tidak jelasnya mengenai masih adanya pengawas yang tidak berintegritas. Datang ke sekolah dan tidak malu meminta amplop. Masih adanya musyawarah guru mata latihan (MGMP) se-kota yang tidak jelas visi misinya.

Kebanyakan gurunya sudah malas membetulkan kompetensi sebab terlalu nyaman. Para pengurusnya datang terlambat ke pertemuannya hingga beberapa jam dan memberi informasi yang tidak jelas arahnya. Kebanyakan guru muncul hanya sebab ancaman uang sertifikasi tidak diberikan bilamana tidak muncul sampai tiga kali berturut-turut.

Pidato sang menteri memang tidak banyak memberi kelegaan dan menyerahkan secercah harapan untuk guru yang sekarang tawar hati. Mungkin ini ialah jawaban doa yang sudah dipanjatkan sekitar bertahun-tahun supaya ada keadilan untuk mereka yang terluka sebab sistem yang banyak sekali masih carut-marut. Selamat Hari Guru Nasional!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed