by

Kurikulum SMK Harus Disesuaikan Dengan Kebutuhan Industri

Merevitalisasi sekolah menengah kejuruan (SMK) sama dengan merevitalisasi kurikulum yangterdapat di SMK. Kurikulum itu harus dicocokkan dengan keperluan industri ataudapat saja kurikulum itu diciptakan bersama-sama dengan dunia industri. Sehingga, SMK bisa merancang kurikulum yang tepat dengan kemampuan lulusan yang diperlukan dunia industri

Hal tersebut dikatakan Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMK (PSMK) Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat (Jabar), Deden Saiful Hidayat. Berdasarkan keterangan dari Deden, rencana revitalisasi ini sudah dilangsungkan sejak 2,5 tahun lalu. Dengan demikian, produknya telah ada.

Road map-nya itu, kata Deden, tidak melulu melibatkan sekolah dan dunia usaha/industri. “Tapi pun harus melibatkan pemerintah daerah. Karena, sekolah itu berada di kabupaten/kota yang tersebar di Jawa Barat. Pemerintah wilayah juga dapat menolong memetakan keperluan lulusan untuk dunia industri dan usaha,” ucapnya, Rabu (31/7/2019).

Saat ini, tambahnya, ada 180 atensi keahlian. Beberapa di antaranya dapat dibilangterlampau banyak, bahkan tidak tidak banyak kompetensi kemahiran yang tidak cocok dengan situasi daerah. Misalnya, di wilayah yang sedikit area industri namun terdapat tidak sedikit kompetensi kemahiran yang dipakai kawasan industri.

“Akibatnya, lulusan susah mendapatkan kegiatan atau mereka terpaksa menggali pekerjaan ke luar dari daerahnya,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, lanjut Deden, reposisi SMK ini untuk meluangkan kompetensi kemahiran yang cocok dengan rencana umum tata ruang (RUTR) wilayah masing-masing. Contohnya, diwilayah pertanian maka kurikulum yang dikembangkan mesti bersangkutan dengan pertanian.

“Pertanian tersebut maksudnya tidak melulu proses bercocok tanam, namun pada teknologi yang dapat menghitung kesempurnaan produk yang diperlukan oleh pasar,” tuturnya

Di samping itu, tambah Deden, pun akan di bina program sister school. Sekolah yang terbilang mapan bakal jadi rujukan pembelajaran. Bahkan, sekolah-sekolah beda dapat memanfaatkan sarana dan prasarana di sekolah unggul tersebut, menilik belum meratanya sarana dan prasarana di SMK, baik negeri maupun swasta.

Deden pun mengatakan, sekolah-sekolah yang mempunyai teaching factory (pembelajaran yang berorientasi buatan dan bisnis) unggulan bakal didorong menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Karena, BLUD akan mempermudah sekolah menerima kegiatan dari pihak lain.

Kebutuhan Industri

Deden menyatakan, sebetulnya sudah tidak sedikit SMK yang menciptakan kurikulum yang sesuai keperluan industri. Contohnya SMKN 11 Bandung yang dibawahi Anne Sukmawati,telah bekerja sama dengan industri untuk sejumlah kompetensi keahlian. Demikian pun SMKN 13 Bandung yang muridnya belum lulus sudah tidak sedikit direkrut oleh industri kimia.

Bahkan, menurut keterangan dari Deden, sekolah di wilayah seperti SMKN di Tasikmalaya dan Ciamis, produknya telah diandalkan oleh tempat-tempat wisata. “Jawa Barat sebagaidi antara pilot project dari revitalisasi SMK memang mesti dapat menghasilkan alumni yang sesuai keperluan industri,” pungkasnya.

 

5 657

https://s.id/60izC

https://pin.it/urwcmbfo2de23d

https://www.plurk.com/p/nfa55v

https://www.scoop.it/topic/education-by-sekolahkampus/p/4109327661/2019/07/29/pendidikan-dan-individu-yang-lengkap

https://sekolahkampus.id

https://www.tipsandtrik.id

https://www.cakraimers.com

https://carijasa.website

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed