by

TI ITB Cirebon Juara Lomba National Business Model Canvas dan National Business Plan

Sekolahkampus.id TI ITB Cirebon Juara Lomba National Business Model Canvas dan National Business Plan – Revolusi Industri 4.0 ini jauh tidak sama dengan Revolusi Industri 3.0 yang lebih menegaskan terhadap komputer dan robot. Dalam menghadapi perubahan tersebut, mahasiswa dituntut untuk mempunyai kemampuan berpikir kreatif dan inovatif guna menjadi sumber daya manusia yang bermutu dan berkompeten dalam membuat SDM Unggul Industri 4.0.

Berkaitan dengan hal tersebut, tiga orang mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Kampus Cirebon berhasil menjadi juara nasional dengan membuat model bisnis halal di era revolusi industri 4.0. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Terani Virda (Teknik Industri – Cirebon 2016), Muhammad Syauqi Ramadhan (Teknik Industri – Cirebon 2017), dan Rifky Krismantoro (Teknik Industri – Cirebon 2018).

Pasang Iklan Gratis Hanya Di Sekolahkampus.id

Dilansir dari laman ITB, mereka meraih adalah juara 1 National Business Model Canvas Competition di Universitas Darussalam Gontor yang dilakukan mulai dari 30 Oktober 2019 sampai dengan 19 Februari 2020 bertempat di Universitas Darussalam Gontor. Tim ITB mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain seperti Universitas Brawijaya, Universitas Gajah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Mataram, Telkom University. Sebelum dinyatakan sebagai juara, setiap peserta harus melalui seleksi Business Model Canvas, seleksi proposal, dan seleksi presentasi.

Tidak hanya itu, tiga mahasiswa Teknik Industri ITB Kampus Cirebon tersebut juga menjadi Juara ke-2 dalam kancah The 5th National Business Plan Competition Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kompetisi tersebut mengusung tema “Be a creative and an innovative youngpreneur in the 21st century” dan diselenggarakan mulai tanggal 6 Januari 2020 – 7 Maret 2020. Peserta yang menjadi finalis pada acara puncak diantaranya adalah Institut Teknologi Bandung, UGM, Prasetya Mulya, ITS, UB, UNY, UNDIP, Telkom University, dll.

“Pada tahap awal dilakukan persiapan ide terlebih dahulu. Setiap anggota tim diarahkan untuk mencari permasalahan dan bisa diselesaikan dengan ide bisnis. Ide bisnis yang baik adalah ide yang dapat menyelesaikan suatu permasalahan yang riil. Selanjutnya, setelah melakukan brainstorming, dilanjutkan dengan merumuskan BMC dan proposal. Setelah memperoleh pengumuman lolos 10 besar, selanjutnya kami merancangkan presentasi sebagai tahapan akhir dari perlombaan. Seluruh persiapan diperkirakan menghabiskan waktu selama dua bulan,” jelas Terani ketika dihubungi oleh Reporter Kantor Berita ITB.

Bukan tanpa hambatan, Terani dan tim menghadapi suka dan duka selama mempersiapkan kedua lomba tersebut. “Kami pernah mengalami kesulitan membagi waktu antara tugas yang banyak dengan pembuatan proposal dan pada akhirnya sering begadang. Sering juga beda pemikiran karena teman di tim tidak sama Angkatan,” katanya.

Selepas mengikuti lomba, Terani pun menyampaikan tips bagi mahasiswa lainnya agar ikut berprestasi dan membanggakan nama almamater tercinta. “Kalo aku sosok setiap ikut lomba sering mengamati celah mana yang bisa menjadi penguat dan unggul. Melihat timeline akademik juga apakah memungkinkan untuk ikut lomba atau tidak, biar tidak terlalu ketinggalan. Terus izin dan minta banyak doa sama orang tua. Aku sosok ngerasa beberapa kesuksesan ini semuanya karena ada doa dari orang tua,” pungkasnya.

Semoga apa yang sudah dilakukan oleh ITB dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed